Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Akuntansi

PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM PEMBELAJARAN AKUNTANSI
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian akhir semester
mata kuliah Seminar Ekonomi Akuntansi semester VI

Disusun oleh :
Nama : Novia Gita Naurani
NIM : A. 210080091
Dosen pengampu : Drs.Budi Sutrisno,Mpd

JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang masalah
Bangsa Indonesia telah mengalami kemerdekaan pada tanggal 17 agustus tahun 1945, dengan presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno, dan diwakilioleh Muh. Hatta. Meskipun kemerdekaan telah diraih , namun indonesia masih terus berjuang untuk mengahadapi beberapa perlawanan dari negara asing. Hal ini dikarenakan masih adanya beberapa negara kontra yang selalu ingin memerangi bangsa Indonesia, pasca kemerdekaan. Negara indonesia bukanlah negara yang liar dan tak berdasar, akan tetapi negara indonesia mempunyai dasar negara yang berisi tentang nilai spiritual, nilai keadilan, budi pekerti dan nilai-nilai luhur yang lain. Dasar negara bangsa Indonesia adalah Pancasila, yang berisi 5 butir pancasila yaitu ketuhanan yang maha esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Pancasila yang merupakan pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang dipraktekkan disekolah-sekolah inilah merupakan salah satu alat yang dijadikan pembentukan karakter selain pelajaran pendidikan agama sebagai pembentuk karakter spiritualis manusia.
Sejak tahun 1990-an, terminologi pendidikan karakter mulai ramai dibicarakan. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya melalui karya yang sangat memukau, The Retrun of Character Education. Sebuah buku yang menyadarkan dunia barat secara khusus di mana tempat Lickona hidup, dan dunia pendidikan secara umum, bahwa pendidikan karakter adalah sebuah keharusan. Inilah awal kebangkitan pendidikan karakter. Karakter sebagaimana didefinisikan oleh Ryan dan Bohlin, mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).
Perlu kita ketahui bahwa karakter berbeda dengan sikap, sifat dan temperamen, sifat dan temperamen memang tidak bisa di bentuk, sedangkan karakter bisa dibentuk. Pada prinsipnya manusia memiliki kapasitas yang sama untuk membangun karakternya.
Ada 47 karakter yang bisa dibentuk diantaranya keberanian, kejujuran, keadilan, tanggungjawab, kepedulian, kepercayaan, empati, pengendalian, berbagi, kerjasama, persahabatan, toleransi, pengampunan, memberi, hikmat, imajinasi, sikap apa adanya, belas kasih, kesamaan, integritas, kreativitas, ketegasan, kehormatan, kebaikan, keikhlasan, loyalitas, humor.http://www.pendidikankarakter.org.com
Menurut Sunardi dalam makalahnya Pendidikan Karakter di Sekolah yang Membebaskan dan Penuh Keteladanan diungkapkan, pendidikan karakter bukanlah pendidikan yang penuh indoktrinasi melainkan penuh dengan keteladanan dan kebebasan untuk memilih nilai-nilai yang baik
Menurut Eddy Hartono, manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun tidak dapat terhindar dari konsekuensi dari setiap pilihannya. Artinya pendidikan karakter sangat dibutuhkan khususnya dalam pendidikan formal. Pendidikan karakter seharusnya juga dapat merubah insan/ pelajar menjadi manusia yang berpendidikan dengan pendidikan yang berkarakter, siswa harus mempunyai karakter tersendiri dalam menmyelesaikan permasalahan pendidikan, dimana karakter itu secara umum diperoleh dari mata pelajaran agama dan pendidikan moral (kewarganegaraan).
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat (Ali Ibrahim Akbar, 2000), ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. http://www.ahmadsudrajattentangpendidikan.org.com.
Begitu pula dengan pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi. Pembelajaran akuntansi yang berkarakter adalah proses pemberian ilmu-ilmu akuntansi secara langsung dan diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar dan direalisasikan diluar kegiatan belajar mengajar. Ilmu akuntansi terkait erat dengan ilmu ekonomi. Banyak sekali perwujudan yang dapat direalisasikan terkait dengan ilmu ini, misalnya orang (siswa akuntansi), seharusnya tidak mempelajari akuntansi secara teori dalam pengerjaan soal, akan tetapi dapat dilakukan praktek kewirausahaan yang dapat dilakukan diluar sekolah. Sehingga dengan perjalanan / praktek wirausahanya, mereka menghasilkan suatu transaksi, dan transaksi itulah yang nantinya harus dikerjakan dan diselesaikan. Dengan cara yang seperti ini maka orang /siswa/ mahasiswa akuntansi tidak hanya berpacu pada soal dan harus dikerjakan, tetapi mereka dapat melahirkan sebuah karakter, yaitu dengan cara melakukan wirausaha sederhana, sehingga terealisasi transaksi dan dari transaksi itu diselesaikan hingga mereka mengerti laporan keauangan mengenai loss/profitksah usaha sederhana mereka.
Namun dalam kenyataanya sulit sekali praktek seperti ini dilakukan. Siswa hanya mendapat proses pembelajaran akuntansi dengan pengerjaan soal, sehingga sebagian siswa mungkin dapat menyelesaikannya, namun tidak paham konsep/ maksud transaksi yang diselesaikannya itu seperti apa. Karena hal inilah pendidikan karakter sangatdiperlukan, baik karakter secara umum, ataupun karakter pada setiap mata pelajaran, dimana yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah“Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Akuntansi. Penulis sengaja mengangkat topic ini karena dirasa banyak sekali karakter yang dapat diwujudkan dalam pembelajaran akuntansi, namun banyak pula sekolah yang belum dapat merealisasikan/ memberikan wujud nyata karakter dalam pembelajaran akuntansi itu sendiri, hal ini dapat dilihat pada terpacunya pada penyelesaian soal-soal akuntansi padahal masih banyak konsep yang belum dimengerti pada pembelajaran akuntansi.
Semoga dengan adanya pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi ini dapoat merombak proses pembelajaran menjadi lebih baik, lebih lengkap, dan menghasilkan anak didik yang berkarakter dan dilandasi moral akhlak yang mulia. Amin YA ALLAH YAROBBAL”ALAMIN.

2. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat ditarik perumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Apakah ada penekanan yang ditujukan pada pendidik? terkait dengan proses pemberian pendidikan berkarakter dalam pembelajaran akuntansi?
2. Bagaimana upaya untuk merealisasikan pendidikan berkarakter dalam pembelajaran akuntansi?
3. Tujuan Pendidikan berkarakter dalam pembelajaran akuntansi?

BAB II
PEMBAHASAN
a. Undang-Undang Kependidikan
Dunia pendidikan selalu berubah seiring perubahan zaman. Pendidikan tidak bersifat stagnan namun mempunyai sistem yang berkelanjutan, dan juga mempunyai tujuan yang konsisten. Seperti halnya pemerintah yang menekankan adanya wajib belajar 9 tahun yang dimulai dari sekolah dasar yang berlangsung selama 6 tahun dan SMP (sederajat) selama 3 tahun. Dengan adanya kebijakan seperti itu merupakan salah satu hak bagi kita sebagai warga negara untuk melaksanakan, menjalani dan melakukan program pendidikan di lembaga formal seperti sekolah-sekolah yang digunakan sebagai tempat belajar dan ajang pencarian ilmu serta proses belajar. Dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada ALLAH Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang berdemokrasi serta bertanggung jawab. Menurut UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 13 Ayat 1 menyebutkan bahwa Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Terkait dengan undang-undang diatas terdapat penekanan bahwa dalam setiap pendidikan itu terdapat pendidikan karakter yang harus diterapkan pada setiap anak didik yang hal itu diperoleh dari pendidik pada saat proses belajar. Proses belajar yang berlangsung terdapat beberapa jalur antara lain formal, non formal dan informal. Pendidikan formal diperoleh ketika sekolah kemudian didukung oleh pendidikan informal dari orang tua(di luar sekolah), dan dilengkapi dengan pendidikan non formal sebagai pelengkap dan pendukung pendidikan sehingga dihasilkan anak didik yang berkarakter.

b. Definisi pendidikan karakter
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pendidikan karakter disekolah harus dapat melibatkan semua komponen yang ada di sekolah antara lain pendidik yang berkarakter, anak didik yang akan diberi karakter , kurikulum yang diterapkan di sekolah, materi, dan realisasi dari materi tersebut sehingga mengahsilkan karakter dari anak didik, dimana praktek pengetahuan karakter iti dapat terlihat dilinkungan sehari-hari.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan karakter kementerian pendidikan nasional mengembangkan grand desain untuk setiap jalur, jenjang dan satuan pendidikan. Grand design dapat diartikan sebagai rancangan atau hal-hal yang terkandung dalam pengaturan karakter tersebut. Adapun konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut.
c. Pembelajaran akuntansi
Akuntansi merupakan ilmu yang bertahap dari pengerjaan bukti transaksi sampai pada laporan keuangan perusahaan, dimana laporan keuangan itu merupakan pedoman (pokok pengerjaan akuntansi) yang dapat diketahui nasib suatu perusahaan itu, terletak pada posisi loss(rugi) ataukah profit (laba). Definisi akuntansi dapat dirumuskan ke dalam dua sudut pandang yaitu sudut pandanh pemakai dan sudut pandang proses kegiatan akuntansi. Dari sudut pandang pemakai dapat didefinisikan bahwa :1. Akuntansi diselenggarakan dalam suatu organisasi (biasanya berupa organisasi perusahaan. 2.informasi akuntansi sangat penting dalam menyelenggarakan kegiatan perusahaan. Informasi ini digunakan dalam pengambilan keputusan intern organisasi (manajemen, investor, kreditur).
Sudut pandang proses kegiatan, mendefinisikan bahwa kegiatan akuntansi merupakan tugas yang kompleks dan menyangkut bermacam-macam kegiatan. Artinya kegiatan akuntansi itu bertahap dari langkah pertama kemudian diteruskan ke dalam langkah (tahap selanjutnya). Tahapan itu sering kita sebut sebagai siklus akuntansi. Perusahaan dagang/jasa, pasti mempunyai siklus tersendiri, namun pada dasarnya tahap akhir dari sebuah siklus itu adalah laporan rugi laba. Dengan adanya laporan R/L ini maka akuntansi tidak dapat berdiri sendiri tanpa ada yang mengendalikan. Jadi akuntansi dalam sebuah perusahaan juga diatur oleh pegawai yang menangani hal tersebut . Dengan melihat laporan R/L perusahaan, maka apa yang akan dilakukan oleh perusahaan menjadi tanggung jawab pemikir perusahaan yaitu manajer. Maka dari itu banyak sekali pembelajaran akuntansi dan orang-orang yang terlibat dalam perusahaan. Dimana manajer ini harus berfikir keras menjaga kelangsungan hidup perusahaan. Manajer harus punya karakter, manajer harus tegas dan cepat dalam mengambil sebuah keputusan

d. Penekanan pada pendidik dalam proses pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi
Pendidikan karenanya menjadi sebuah kegiatan menabung, dimana para murid adalah celengannya dan guru adalah penabungnya ( paulo,1985:50). Pendidik yang berkarakter adalah pendidik yang mengetahui norma (aturan) dan moral yang baik. Pendidik yang bermoral baik maka akan melahirkan karakteryang baik. Paul suparno, ada 4 model penyampaian pembelajaran moral:1. Model sebagai mata pelajaran tersendiri. 2. Model terintegrasi dalam semua bidang studi.3. model luar pengajaran, 4. Model gabungan. Model terintegrasi berpusat pada guru yaitu guru adalah pengajar moral, semua guru ikut bertanggung jawab dan pembelajaran tidak selalu bersifat informatif kognitif ,melainkan bersifat terapan pada tiap bidang studi.
Begitu pula dengan penekanan yang ada yang ada pada diri pendidik yaitu guru akuntansi harus mampu menerapkan (mempraktikkan manajemen akuntansinya) sebelum hal itu diterapkan pada anak didiknya. Pengajar akuntansi yang kurang paham dengan konsep akuntansi secara mendetail maka tidak akan menghasilkan pendidik akuntansi yang berkarakter, hasilnya, pembelajaran yang bertujuan mengahasilkan karakter akuntan, bisa jadi malah mengahasilkan pendidik berkarakter pada lingkup teori saja, sehingga minimal sekali pikirannya untuk sampai pada tingkat manajerial. Melihat di era globalisasi ini faktor utama yang menunjang berhasilnya pendidikan adalah praktek pendidik itu sendiri. Begitu pula dengan penerapan karakter pembelajaran akuntansi, harus dapat menghasilkan seorang akuntan yang berkarakte, sehingga ada sesuatu yang menonjol pada siswa (mahasiswa akuntansi), dimana itu semua didapatkan dari pendidik yang berkarakter pula dalam pembelajaran akuntansi.

e. Upaya Realisasi pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi
1) Pentingnya penegakan moral
Moral menempatkan posisi penting dalam melewati setiap keadaan kehidupan. Oleh karena itu setiap usaha untuk memajukan suatu masyarakat mutlak membutuhkan moralitas (Harahap:2005:V). Penegakan moral akademik sangat signifikan. Dua hal signifikan itu adalah: pertama, penegakan moral akademik itu akan dapat menjaga kalangan perguruan tinggi dari sikap bias (berat sebelah) dan tetap menjadi pandu bagi arah perkembangan masyarakat. Kedua, penegakan moral akademik merupakan konsekuensi logis dari tugas profetik yang di emban kaum akademis. Pentingnya penegakan moral memacu tercapainya realisasi pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi. Semua karakter yang akan diterapkan pada mata pelajaran terpacu pada pentingnya moral yang harus dimilki dan dipahami.
2) Menempatkan moral di atas ilmu (dalam konteks menyoroti karakter ilmuan akuntansi).
Dalam transaksi masyarakat indonesia, sering dirasakan bahwa kaum berilmu tidak berperilaku sejajar dengan ilmu yang dimilikinya. Contoh: seorang akuntan yang pandai ilmu akuntansinya tetapi ia tidak memiliki olah spiritual dan moral yang baik maka kepandaiannya akan disalahgunakan dan bertindak korupsi sehingga merugikan banyak pihak. Hal semacam ini tidak dapat disebut karakter dalam pembelajaran akuntansi. Dan ilmu dilitakkan di atas moral padahal secara teoritis menyatakan bahwa moral ditempatkan lebih tinggi dari pada ilmu. Sehingga mampu menghasilkan karakter akuntan yang intelek dan religius.
3) Adanya integritas sehingga melahirkan karakter pembelajaran akuntansi yang baik
Pembelajaran akuntansi yang mampu menghasilkan karakter yang baik harus dilandasi adanya integrasi agama dan moral yang baik pula. Contoh: profesi akuntan sebagai seorang manajer dalam suatu perusahaan yang menjunjung tinggi moral, ilmu, dan agama, maka akan dapat menghasilkan keputusan yang baik dan kenyamanan bagi para pegawainya. Dan hasil itu tidak lain adalah dari pendidikan karakter yang tertanam dengan baik yang berpedoman agama dan moral. Manajer dalam perusahaan yang berkarakter baik bukan dilihat dari IQ (intelegesi) tetapi 99% adalah dari SQ yang ada dalam diri mereka, dengan modal SQ atau spirit yang dimiliki maka ia akan mengambil kep[utusan dan berfikir tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga demi kepentingan bersama. Dan tetntunya dengan berpedoman agama, akhlak, dan ilmu.

f. Tujuan pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi
Pendidikan karakter bertujuan untuk menghadapi tantangan di era globalisasi mendatang, pembelajaran akuntansi bukan hanya sekedar ilmu teori yang harus diketahui dan didefinisikan, tetapi bagaimana dengan teori tersebut dapat menambah pengetahuan konsep, dan mengetahui realita atau kejadian tiap transaksi perusahaan. Menurut Mochtar Buchori (2007) dalam , http://www.ahmadsudrajattentangpendidikan.org.com.menyatakan bahwa Pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Begitu pula dengan pembelajaran akuntansi, Pembelajaran akuntansi juga tidak berpusat pada transaksi perusahaan dan laporan keuangan tetapi juga menghayati nilai-nilai kepemimpinan pada suatu perusahaan, cara berorganisasi, dan pengaturan konsep mengenai pelaksanaan suatu kegiatan tertentu.
Selain bertujuan untuk menghadapi era globalisasi, pendidikan karakter juga bertujuan melahirkan SDM yang mempunyai karakter akuntan yang mampu menyelesaikan segala persoalan yang berhubungan dengan pembelajaran akuntansi, dan mampu merealisasikan pembelajaran akuntansi yang telah dipelajari ke dalam dunia kerja nantinya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Ditekankan dalam diri pendidik, bahwa seorang pendidik akuntansi harus mempunyai karakter yang menonjol dibidang akuntansinya, bukan hanya sekedar teori tetapi juga mampu merealisasikan di dunia kerja, karena ilmu teori memang penting namun praktek dalam kenyataan lebih diutamakan. Pendidik yang berkarakter juga harus memiliki moral yang baik, meletakkan moral di atas ilmu, dengan begitu maka insyaALLAH akan dapat menghasilkan anak didik yang berkarakter, bermoral dengan landasa agama dan pancasila
2. Upaya Realisasi pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi
1. Pentingnya penegakan moral
2. Menempatkan moral di atas ilmu (dalam konteks menyoroti karakter ilmuan akuntansi).
3. Adanya integritas sehingga melahirkan karakter pembelajaran akuntansi yang baik
3. Tujuan pendidikan karakter dalam pembelajaran akuntansi.
1. menghadapi tantangan di era globalisasi mendatang, pembelajaran akuntansi bukan hanya sekedar ilmu teori yang harus diketahui dan didefinisikan, tetapi bagaimana dengan teori tersebut dapat menambah pengetahuan konsep dan pengetahuan.
2. membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata
3. melahirkan SDM yang mempunyai karakter akuntan yang mampu menyelesaikan segala persoalan yang berhubungan dengan pembelajaran akuntansi, dan mampu merealisasikan pembelajaran akuntansi yang telah dipelajari ke dalam dunia kerja nantinya.

DAFTAR PUSTAKA
Jusup, Haryono, 2005, Dasar-Dasar Akuntansi jilid I Yogyakarta:Aditya Media
Freire, Paulo, 1985, Pendidikan Kaum tertindas Jakarta:LP3ES
Budiningsih, Asri ,2004, Pembelajaran Moral (Berpijak Pada Karakter Siswa Dan Budaya Jakarta: Rineka cipta.

Sudrajat, Ahmad, 2010, “ Tentang Pendidikan”
http://www.ahmadsudrajattentangpendidikan.org.com18 juni 2011, 18.45

Harahap, Syahrini, 2005, Penegakan moral akademik di dalam dan di luar kampus, Jakarta : Raja Grafindo Persada
.
Eko, Yusuf Pambudi, 2011,” Pendidikan Karakter”
http://www.Yusufekopambudipendidikankarakter.org.com 18 juni 2011, 18.45
Kesuma,Lea, 2011, “Pendidikan Karakter?Mungkinkah?”
http://www.LeaKesumapendidikankarakter.org.com18 juni 2011, 18.45

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: