Sertifikasi Guru Sebagai Langkah Awal Profesionalisme Guru

SERTIFIKASI GURU SEBAGAI LANGKAH AWAL
PEMBENTUK PROFESIONALISME GURU
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Ekonomi Akuntansi
Dosen pengampu:

Disusun oleh :
Nama : Novia Gita Naurani
NIM : A. 210080091

JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kualitas Guru di Indonesia perlu ditingkatkan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal ini tentu terkait dengan kualifikasi akademik seorang guru dalam melakukan proses belajar mengajar yang ditujukan pada siswa yang diajarnya dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal ini dapat diketahui dari hasil prestasi siswa pada setiap selesai menempuh ujian atau dari keaktifan siswa di kelas, seberapa jauh mereka memahami suatu materi yang diajarkan.
Guru sebagai social worker (pekerja sosial) sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, kebutuhan masyarakat akan guru belum seimbang dengan sikap sosial masyarakat terhadap profesi guru. Berbeda bila dibandingkan dengan penghargaan mereka terhadap profesi lain, seperti dokter, pengacara, insinyur, dan sebagainya. Rendahnya pengakuan masyarakat terhadap guru, menurut Tabrani Rusyan (Nurdin, 2004:192), disebabkan beberapa faktor yaitu:
1. Adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa siapa pun dapat menjadi guru dapat menjadi guru, asalkan ia berpengetahuan, walaupun tidak mengerti didaktik metodik.
2. Kekurangan tenaga guru di daerah terpencil memberikan peluang untuk mengangkat seseorang yang tidak mempunyai kewenangan profesional untuk menjadi guru.
3. Banyak tenaga guru sendiri yang belum menghargai profesinya sendiri, apalagi berusaha mengembangkan profesi tersebut. Perasaan rendah diri karena menjadi guru masih menggelayut di hati mereka sehingga mereka melakukan penyalah-gunaan profesi untuk kepuasan dan kepentingan pribadi, yang hanya akan menambah pudar wibawa guru di mata masyarakat.
Melihat kondisi guru yang hampir memprihatinkan,maka saat ini dibuka adanya program sertifikasi guru dimana dengan langkah ini akan dapat menciptakan guru yang profesional dan juga dapat dikatakan sebagai penjamin kemakmuran para guru. Perlu kita ketahui bahwa guru bukanlah sebuah profesi akan tetapi guru adalah sebuah pengabdian, yaitu pengabdian kepada anak didik dengan tujuan dan harapan anak didik tersebut akan menjadi tabungan SDM dan kader yang berkompeten.
Sertifikasi guru bukan semata-mata terfokus pada gaji guru yang tinggi, akan tetapi guru dituntut untuk profesional dan berkompeten serta memiliki kualifikasi akademik yang optimal. Dan program sertifikasi dapat dicapai melalui beberapa ujian yang bertahap untuk mencapai sertifikasi tersebut. Untuk guru yang telah berhasil mencapai sertifikasi dituntut keprofesionalannya baik dalam hal mengajar ataupun pengetahuan yang dimiliki dan mampu mengaplikasikannya pada siswa, sehingga siswa dapat berfikir kritis serta mampu bersaing di era globalisasi ini.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Apa peran sertifikasi guru dalam pendidikan?
2. Bagaimana perbedaan kualifikasi akademik antara guru yang sudah sertifikasi dengan guru yang belum sertifikasi?
3. Tujuan sertifikasi guru dalam pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Peningkatan Kualitas Guru Untuk Penciptaan SDM
Pada era globalisasi ini, tantangan terberat yang dihadapi oleh Bangsa indonesia adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang bermutu dalam jumlah yang memadai, karena hanya dengan sumber daya manusia yang berkualitaslah pembangunan yang optimal dapat tercapai. Pendidikan dan guru adalah ibarat sekeping mata uang logam yang saling berkaitan satu sama lain. Kita bisa mengkajinya secara terpisah tapi harus melihatnya sebagai satu kesatuan.
Merencanakan suatu pendidikan masa depan yang baik adalah dengan membangun dan meningkatkan kualitas guru. Membangun dan meningkatkan kualitas guru artinya mengarahkan para guru pada profesionalitas yang diharapkan (actual profesionality). Pekerjaan seorang guru adalah sebuah profesi yang mulia, yaitu mulia disisi manusia dan mulia disisi Tuhan, karena guru mengemban amanah sesuai dengan Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yaitu “…turut serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.”

B. Tahapan Sertifikasi Guru
Sertifikasi guru merupakan langkah awal penciptaan guru yang profesional serta merupakan program yang dapat dikatakan sebagai penunjang kesejahteraan guru. Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang wajib dihormati dan disejahterakan, karena guru bukan sebuah pekerjaan namun sebuah pengabdian untuk menampilkan SDM yang peduli terhadap perubahan. Kepemilikan sumber daya manusia (SDM) yang maksimal memungkinkan para guru untuk menjadi professional dalam bidangnya. Sehingga sangat penting bagi pemerintah menegaskan apa dan bagaimana sumberdaya pendidik itu akan dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan atau dalam dalam kata lain seperti apa sertifikasi bagi para guru itu akan kita tawarkan.

Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 tahun 2007 tentang sertifikasi guru dalam jabatan pada pasal 1 ayat 1 dijelaskan sertifikasi bagi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dalam jabatan. Dimana lebih tegas pada pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa:
1. Sertifikasi guru dalam jabatan dilakasanakan melalui uji kompetens untuk memperoleh sertifikat pendidik
2. Uji kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio .
3. Penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan yang mendeskripsikan:
a Kualifikasi Akademik
b. pendidikan dan pelatihan;
c. pengalaman mengajar;
d. perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran;
e. penilaian dari atasan dan pengawas;
f. prestasi akademik;
g. karya pengembangan profesi;
h. keikutsertaan dalam forum ilmiah;
i. pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; dan
j. penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
4. Guru dalam jabatan yang lulus penilaian portofolio sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mendapat sertifikat pendidik.
5. Guru dalam jabatan yang tidak lulus penilaian portofolio dapat:
a. melakukan kegiatan-kegiatan untuk melengkapi dokumen portofolio agar mencapai nilai lulus; atau
b. mengikuti pendidikan dan pelatihan profesi guru yang diakhiri dengan ujian;
6. Ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b mencakup kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.
7. Guru dalam jabatan yang lulus pendidikan dan pelatihan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b mendapat sertifikat pendidik.
8. Guru dalam jabatan yang belum lulus pendidikan dan pelatihan profesi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (5) huruf b diberi kesempatan untuk mengulang ujian materi pendidikan dan pelatihan yang belum lulus.

Ujian sertifikasi yang diberikan kepada para guru adalah memiliki bebagai efek positif bagi pendidikan di Indonesia, yaitu
(a) Memposisikan diri guru menjadi jauh lebih terhormat dan mulia
(b) Menjauhkan profesi guru dari praktik-praktik yang bersifat tidak sehat dan mencemarkan nama baik guru
(c) Mensistematiskan peningkatan kualitas pendidikan di tanah air karena telah memprogramkan peningkatan kualitas guru secara terprogram
(d) Menghasilkan guru sesuai tanah air
(e) Memberikan rasa percaya diri dikalangan para guru untuk tampil sebagai pendidik dan pemikir bagi pengembangan dunia pendidikan di Memfungsikan para guru sebagai pengontrol mutu pendidikan di
(g) Menghasilkan guru yang professional pada bidangnya
lembaga pendidikan
C. Profesionalisme Guru
kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Guru adalah pendidik profesional dengan utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Untuk meyakinkan bahwa guru sebagai pekerjaan profesional maka syarat dan ciri pokok pekerjaan
Pembangunan dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan profesional menurut Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. (2005:142-143) sebagai berikut:
a. Pekerjaan profesional ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam yang hanya mungkin didapatkan dari lembaga-lembaga pendidikan yang sesuai, sehingga kinerjanya didasarkan kepada keilmuan yang dimilikinya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
. b. Suatu profesi menekankan kepada suatu keahlian dalam bidang tertentu yang spesifik sesuai dengan jenis profesinya, sehingga antara profesi yang satu dengan yang lainnya dapat dipisahkan secara tegas.
c. Tingkat kemampuan dan keahlian suatu profesi didasarkan kepada latar belakang pendidikan yang dialaminya yang diakui oleh masyarakat, sehingga semakin tinggi latar belakang pendidikan akademik sesuai dengan profesinya, semakin tinggi pula tingkat keahliannya dengan demikian semakin tinggi pula tingkat penghargaan yang diterimanya.
d. Suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memiliki dampak terhadap sosial kemasyarakatan, sehingga masyarakat memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap setiap efek yang ditimbulkan dari pekerjaan profesinya itu.
Sebagai suatu profesi, terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu meliputi kompetensi pribadi, kompetensi profesional dan kompetensi sosial kemasyarakatan.
D. Tujuan Sertifikasi Guru
1.. Menentukan kelayakan guru sebagai agen pembelajaran. Agen pembelajaran berarti guru menjadi pelaku dalam proses pembelajaran. Guru yang sudah menerima sertifikat pendidik dapat diartikan sudah layak menjadi agen pembelajaran.
2. Meningkatkan proses dan mutu pendidikan. Mutu pendidikan dapat dilihat dari mutu siswa sebagai hasil pembelajaran. Mutu siswa ini diantaranya ditentukan dari kecerdasan, minat dan usaha siswa yang bersangkutan. Guru yang bermutu dalam arti berkualitas dan profesional menentukan mutu siswa.
3. Meningkatkan martabat guru. Dari bekal pendidikan formal dan juga berbagai kegiatan guru yang antara lain ditunjukkan dari dokumentasi data yang dikumpulkan dalam proses sertifikasi maka guru akan mentransfer lebih banyak ilmu yang dimiliki kepada siswanya. Secara psikologis, kondisi tersebut akan meningkatkan martabat guru yang bersangkutan.
4. Meningkatkan profesionalisme. Guru yang profesional antara lain dapat ditentukan dari pendidika, pelatihan, pengembangan diri dan berbagai aktifitas lainya yang terkait dengan profesinya. Langkah awal untuk menjadi profesional dapat ditempuh dengan mengikuti sertifikasi guru. (Bedjo Sujanto, Cara Efektik Menuju Sertifikasi Guru (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2009).
E. Peran Sertifikasi Guru Dalam Pendidikan
Landasan yuridis diberilakukan sertifikasi guru dan dosen antara lain: (1) Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; (2) peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; (3) Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen; (4) Draff Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) yang rencananya Oktober 2006 akan segera diberlakukan bahkan menurut Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas Dr. Fasla Djalal, Ph. D. (Pikiran Rakyat, 6 Oktober 2006 hal. 12) mengatakan bahwa: ‘’Awal Januari 2007 take home pay guru Minimal 3 juta”.
Tujuan sertifikasi dijelaskan oleh Samani (2006:10) adalah untuk menentukan tingkat kelayakan seseorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran di sekolah dan sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi persyaratan dan lulus uji sertifikasi. Dengan kata lain tujuan sertifikasi untuk meningkatkan mutu dan menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Menurut Fajar (2006: 3-4) manfaat uji sertifikasi guru dalam kerangka makro upaya peningkatan kualitas layanan dan hasil pendidikan sebagai berikut: (1) melindungi profesi guru dari praktik-praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru itu sendiri; (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang akan dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di negeri ini; (3) menjadi wahana penjaminan mutu bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang bertugas mempersiapkan calon guru dan juga berfungsi sebagai kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidikan; (4) menjaga lembaga penyelenggaran pendidikan dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang potensial dapat menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku; (5) memperoleh tunjangan profesi bagi guru yang lulus ujian sertifikasi.

F. Perbedaan kualifikasi antara guru serrtifikasi dan guru belum sertifikasi
Untuk sekolah SBI ataupun RSBI, ditekankan guru guru yang mengajar telah menempuh sertifikasi. Namun terkadang kualifikasi akademik guru yang mengajar di sekolah SBI/RSBI hanya terpaut sedikit. Hal ini dikarenakan adanya kualitas dan penekanan untuk semua guru untuk bersikap professional khususnya terkait dengan kualifikasi akademik. Factor utama yang mengatur ketetapan adalah status sekolah SBI/RSBI. Untuk sekolah yang masih bertaraf standar nasional,juga memerlukan kualitas pengajar yang professional, akan tetapi belum ada penekanan dalam hal sertifikasi. Yang menjadi permasalahan saat ini adalah adanya kemungkinan sertifikasi belum menunjang keprofesionalaismean guru.
Secara umum pasti ada sedikit perbedaan kualifikasi antara guru bersertifikasi dan belum bersertifikasi. Perbedaan yang akan tersoroti dalam masalah sertifikasi ini bukan pada gaji yang melejit, tapi aspek pengetahuan dan profesionalisme yang murni. Guru yang sudah bersertifikasi akan mampu memberikan pengetahuan ataupun materi yang bukan hanya bersumber dari buku pelajaran akan tetapi secara lebih luas dapat menyampaikan atau member contoh keadaan real yang ada di lingkungan. Selain itu sedikit banyak pastilah guru bersertifikasi memiliki pengalaman pengalaman yang ia rasakan, missal pengalaman saat menempuh sertifikasi, yang terdapat beberapa tahhapan dalam sertifikasi itu sendiri. Guru yang bersertifikasi juga mempunyai tanggung jawab yang lebih besar yaitu mampu menerapkan metode metode pembelajaran yang efektif sehingga menimbulkan pemikiran dan ide ide yang unik dari anak didik.
Guru yang belum bersertifikasi juga belum tentu minim dalam hal kualifikasi. Tapi mungkin adanya sedikit kekurang lengkapan dalam menerapkan metode ataupun penyampaian materi yang keefektifan yang belum maximal. Setiap guru mempunyai tanggung jawab yang besar bagi kesuksesan peserta didiknya lebih-lebih guru yang bersertifikasi. Jadi sesuai kalimat sebelumnya yang telah dipaparkan bahwa guru bukan pekerjaan tetapi pengabdian dan dituntut keprofesionalannya tanggung jawab dan keikhlasannya.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sertifikasi guru merupakan proses pemberian sertifikat pada guru setelah menemph tahapan ujian sehingga mencapai kelulusan. Tujuan dari program ini secara sederhana adalah untuk meningkatkan profesionalisme guru dalam mendidik dan mampu memberikan sesuatu gertakan pada peserta didik untuk menciptakan SDM yang berkualitas. Guru yang sudah bersertifikasi harus memiliki kualifikasi akademik dan berbagai pelatihan ataupun mengembangkan penelitian penelitian, sehingga secara tidak langsung ilmi-ilmu yang telah tetuang dalam karyanya dapat digunakan oleh khalayak luas. Sertifikasi guru juga merupakan bentuk perhatian pemerintah atas nasib guru. Artinya dengan adanya sertifikasi guru, maka ada sedikit tambahan penghasilan bagi guru. Namun semua itu diraih bukan dengan cara yang Cuma-Cuma.

3.2 Saran
Bagi guru yang telah bersertifikasi,janganlah menyalah gunakan keberhasilah yang telah diraih akan tetapi wujudkan bentuk tanggung jawabmu melalui pengabdianmu terhadap anak didik agar menjadi seseorang yang peduli akan perubahan, tanggap atas berbagai permasalahan, mengetahu mana yang haq dan batil dan menjadi SDM yang berkualitas berguna bagi agama dan bangsa. Bagi guru yang belum bersertifikasi tetaplah memegang teguh tanggung jawabmu sebagai pengabdi bagi anak didik, bukan pekerja untuk anak didik.

DAFTAR PUSTAKA
Yamin 2006, Sertifikasi dan Profesi, Bandung, Alfabeta

Muslich 2007,Sertifikasi Guru, Jakarta, Buni Aksara

http://www.stainlangsa.ac.id/jurnal/tarbawi/113-pengembangan-sdm-berkualitas-dalam-rangka-perwujudan-profesionalisme-guru-di-era-kontemporer
http://mardiya.wordpress.com/2010/02/18/meningkatkan-kualitas-pendidikan-melalui-peningkatan-profesionalisme-guru/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: